Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Desa Long Payau
Nama Desa Long Payau berawal dari sebuah peristiwa pada masa lampau, ketika terjadi perang antar suku di wilayah Apau Kayan. Pertumpahan darah yang sangat hebat terjadi di daerah Tege hingga masyarakat pada waktu itu menyaksikan aliran sungai yang memerah menyerupai darah hewan payau yang kental. Sejak saat itu, daerah dan sungai tersebut diberi nama Long Payau, nama yang masih digunakan hingga sekarang.
Pada masa dahulu, masyarakat Dayak Kenyah Bakung di Long Payau menganut kepercayaan animisme, sebelum masuknya pengaruh agama Kristen. Mereka mempercayai adanya benda-benda gaib dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan. Salah satu upacara tradisional yang masih bertahan hingga kini adalah “Uman Untat”, yaitu ritual permohonan berkat setelah panen padi. Dahulu, upacara ini ditujukan kepada para leluhur, tetapi kini lebih dimaknai sebagai acara keramaian sekaligus permohonan berkat kepada Sang Pencipta.
Seperti masyarakat Dayak pada umumnya, kehidupan sosial di Long Payau diatur oleh seorang Kepala Umaq. Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus terpilih dan memiliki keahlian dalam perang. Jika perang usai, masyarakat mengadakan ritual “Mamat”, yaitu pesta kemenangan dengan mempersembahkan kepala musuh yang kalah. Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari penuh. Dalam struktur kepemimpinan tradisional, terdapat dua tingkatan, yaitu Kepala Umaq sebagai pemimpin utama dan Punggawa sebagai pemimpin kedua.
Secara administratif, Desa Long Payau kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Letaknya sekitar 10 kilometer dari ibukota kecamatan, dan sebelum pemekaran daerah, desa ini tergabung dalam wilayah Kabupaten Bulungan. Penduduk Long Payau berasal dari Suku Dayak Kenyah, sama seperti masyarakat Kayan Hulu pada umumnya. Hampir seluruh warga menggantungkan hidup pada kegiatan bercocok tanam dan berladang, mengingat desa ini berada jauh dari pusat kota kabupaten.
Keistimewaan lain Desa Long Payau adalah posisinya yang strategis karena berbatasan langsung dengan Negara Malaysia bagian Sarawak. Secara geografis, desa ini berada di daerah tropis dengan kondisi alam pegunungan dan perbukitan. Di tengah kawasan tersebut mengalir Sungai Tepayan, yang menjadi sumber kehidupan utama masyarakat. Sungai ini tidak hanya menyediakan hasil ikan air tawar, tetapi juga berperan penting dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat setempat.
Sebagian besar penduduk Long Payau bekerja sebagai petani, dan minat masyarakat untuk berkebun sangat tinggi. Hasil kebun dipasok ke kecamatan untuk dijual, sehingga memberikan dampak positif bagi peningkatan taraf hidup masyarakat. Dari segi sosial, masyarakat Long Payau masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Mereka juga menjunjung tinggi semangat gotong royong yang disebut “Senguyun”, sebuah tradisi kerja sama yang membantu masyarakat saling mendukung dalam menghadapi kesulitan.
Sebagai desa yang dekat dengan ibukota kecamatan, masyarakat Long Payau melalui pemerintah desa terus mengusulkan pembangunan infrastruktur, terutama akses jalan darat yang lebih memadai. Peningkatan kualitas jalan menuju pusat pemerintahan kecamatan di Desa Long Nawang sangat diharapkan, karena akan mempermudah aktivitas perekonomian, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Dengan demikian, Desa Long Payau tidak hanya memiliki sejarah panjang yang kaya akan nilai budaya, tetapi juga terus berupaya menata masa depan demi kesejahteraan warganya.